Kebawa Demam Lari tapi Susah Naik Kelas

sudah sekitar sebulan terakhir saya lagi keranjingan lari. hobi yang sangat telat, kenapa ga dari dulu dulu, padahal yang ngajakin banyak banget. terus terang dulu saya baru lari 100 meter nafas udah abis, bahkan sering diketawain istri yang larinya lebih lambat tapi tahan jarak jauh, sedangkan saya sering “gaspol” di awal lari tapi cepet abis bensin duluan

lihat temen temen bisa lari 1km tanpa henti, saya terkagum kagum. bahkan ada yang dulunya persis kaya saya, tapi sekarang bisa lari 5km (5K) tanpa henti. akhirnya saya coba dengan kecepatan yang lebih lambat, dan ternyata bisa juga 1km, 2km, dan sampai 5km tanpa henti. prosesnya tentu ga langsung, perlu beberapa kali lari sampai akhirnya bisa 5K tanpa henti.

kebetulan saya beli gelang murah (mi band) untuk monitor langkah perhari dan heartrate. jadi kalo ada hari dimana saya ga memenuhi target 8000 langkah, rasanya kok jadi ga enak, sehingga mau ga mau dipaksakan lari buat memenuhi target. sekarang target saya tiap 2 hari sekali harus lari 5K. so far, target ini bisa terpenuhi.

jarak terjauh yang bisa saya capai nonstop adalah 7K. pace selalu di sekitar 8 menit an per km, ada satu dua kali bisa mencapai pace 7 koma sekian menit pada kondisi luar biasa. saya perhatiin kecepatan dan kenyamanan lari berbanding lurus dengan kesiapan tubuh. saat badan kurang siap, maka lari jadi berat. kurang siap biasanya terjadi kalo lari sore hari pulang kantor, dimana badan belum sempat istirahat atau minum yang cukup. kalo larinya pagi sebelum berangkat kantor biasanya lari berasa nyaman, dan seringnya saya bisa merasakan meditasi dari lari yang nyaman.

sekarang targetnya mau naik kelas, yaitu meningkatkan pace atau menambah jarak menjadi 10K, doakan semoga bisa tercapai dengan nyaman (bukan tercapai dengan maksa)

kalau sudah naik kelas nanti saya tulis entry blog lagi ..

Advertisements

Go Leicester !!

Ini adalah entry pertama saya tentang sepakbola, saya tulis karena musim ini terjadi suatu kejutan luar biasa di Liga Sepakbola Inggris (EPL) yang melibatkan tim Leicester City dari kota Leicester. Saya pernah tinggal di kota Leicester pada kurun waktu tahun 2004-2005, saya melihat sendiri bagaimana antusiasme penduduk kota Leicester dalam mendukung tim kesayangannya, walaupun pada saat itu tim Leicester City masih melempem. Sehabis menonton pertandingan malam ini antara Leicester City yang dijamu oleh Manchester United yang berakhir 1-1, saya langsung ingin menuliskan excitement saya dalam tulisan blog ini. Leicester City saat ini masih memimpin klasemen liga dengan nilai 76 dengan menyisakan hanya 3 pertandingan sisa, sementara rival terdekatnya yaitu Totenham memperoleh nilai 69 dengan sama sama menyisakan tiga pertandingan. Secara matematis peluang Leicester City menjadi juara EPL sangat besar dengan selisih angka yang jauh.

Musim ini merupakan kejutan luar biasa bagi EPL (dan Leicester tentunya). Selama saya mengamati sepakbola Inggris sejak tahun 90an, tidak pernah ada tim diluar tim besar yang menjadi juara EPL, ada pengecualian sedikit pada tahun 1994-1995 dimana Blackburn Rovers mematahkan hegemoni Manchester United, tapi pada saat itu setahun sebelumnya Blackburn Rovers sudah merupakan tim yang kuat dengan duet striker Alan Shearer dan Chris Sutton. Leicester City sangat jauh berbeda, tahun lalu mereka masih bertarung supaya tidak terdegradasi, tapi tahun ini tiba tiba sudah hampir juara. Saya dan jutaan penggemar EPL seakan tidak percaya, dan ini mungkin sejarah yang akan sulit terulang di masa depan. Dan sejak tahun 1994 juara EPL berkutat antara Manchester United, Manchester City, Chelsea, Liverpool dan Arsenal. Sungguh membosankan. Tim lain cuma mampu memberikan kejutan kejutan kecil seperti Everton 2 tahun lalu dan Swansea di tahun sebelumnya.

Secara natural saya adalah penggemar Arsenal, dan menjadi pendukung Arsenal sejak masa pertama kali di tanggani Arsene Wenger, terutama pada saat mereka juara liga di musim 2003-2004. Pada saat itu saya kagum dengan legiun Prancis Arsenal seperti Henry, Pires, Petit, Vieira, dll. Saya sudah mendukung Prancis sejak mereka Juara Dunia 1998 dan Juara Piala Eropa 2000, kebetulan waktu itu saya tinggal di Prancis, jadi wajar saya jadi pendukung mereka. Pada saat pindah ke Leicester, maka otomatis tim yang saya dukung adalah Arsenal. Akhir akhir ini Arsenal prestasinya kurang mengkilap sehingga saya tidak begitu mengikuti berita berita EPL lagi, sampai akhirnya tahun ini saya mulai menonton EPL lagi karena ada fenomena Leicester.

Jelas kebangkitan Leicester City meningkatkan gairah saya menonton EPl, dan jutaan penggemar EPL lainnya (terutama fans klub klub kecil), yang sudah cukup bosan melihat juara dari tim tim besar (dan kaya). Kapitalisme di sepakbola membuat sepakbola menjadi membosankan. Semoga Leicester menjadi juara dalam beberapa minggu ke depan, dan meningkatkan kembali gairah menonton EPL saya dan jutaan penggemar EPL lainnya. 

88165911 leicester

Review Kamera Aksi GoPro dan Xiaomi Yi untuk Dokumentasi Riding

Seperti yang mungkin sudah sering dilihat di entry entry blog saya terdahulu, dimana saya sering sekali mendokumentasikan perjalanan riding / touring yang saya lakukan, maka beberapa rekan menanyakan kamera apa yang saya pake untuk merekam tersebut. Kamera aksi (actioncam) pertama yang saya beli adalah Xiaomi Yi, kemudian saya coba pertama kali untuk dokumentasi video blog morning ride ke purwakarta di entry ini . Penggunaan actioncam terbesar buat saya adalah rekaman riding itu sendiri, saat selesai riding biasanya di rumah saya maenkan lagi video rekaman tersebut, dan merasakan kembali sensasi riding yang saya alami.

Alasan saya membeli Xiaomi Yi yang pertama ini adalah actioncam yang relatif murah, dengan kualitas gambar 11-12 (setara) dengan market leader actioncam yaitu GoPro. Dua keuntungan  utama Xiaomi Yi adalah harga murah dan kualitas bagus. Kekurangan Xiaomi Yi adalah di masalah pengoperasiannya sering kali salah pada saat memilih mode photo / video, timelapse yang bermasalah dengan metering sehingga hasilnya overexpose, Aksesoris tambahan seperti waterproof casing  yang harus beli lagi. Kesimpulannya kamera ini layak untuk dibeli dan handal, akan tetapi user harus membiasakan diri untuk merubah mode pengoperasiannya.

Kemudian muncul kebutuhan untuk merekam perjalanan riding dengan kamera depan dan belakang motor, sehingga saya membutuhkan satu actioncam lagi. Kebetulan sedang ada promo Gopro 4 session. Meskpun ini Gopro seri yang paling murah, akan tetapi saya putuskan tetap membeli Gopro ini, bukan karenai kualitas, tapi saya mencari actioncam dengan pengoperasian untuk pengambilan video dan timelapse yang lebih mudah. Dan ternyata harapan saya terkabut. Gopro session ini sangat mudah untuk pengambilan video/timelapse secara cepat, akan tetapi kurang berguna untuk single foto seperti untuk selfie. Sebaliknya Xiaomi Yi lebih cocok untuk selfie tapi kurang cocok untuk video dan timelapse

Berikut ini adalah video video dengan kamera depan belakang … oh iya saya sangat suka dengan template gopro studio untuk editing video, sangat simple dan memudahkan proses edit video menjadi produk akhir seperti trailer ..

video kamera depan belakang

video dengan template trailer dari gopro studio

cuplikan kamera depan belakang instagram

Test Photo dan Video Underwater Xiaomi Yi 

Kamera aksi (actioncam) Xiaomi Yi sering disebut sebagai “poor man GoPro” karena harganya paling tidak seperempat harga kamera GoPro. Karena saling murahnya kamera ini sering diplesetkan sebagai kamera siomay. Untuk spek dan fitur bisa dicek di link link lain di internet. Di entry kali ini saya ingin menguji kemampuan video dan photo underwater. Mode yang digunakan adalah mode video dan mode time lapse foto dengan interval 0.5 detik

Berikut hasil photo dan videonya (video tanpa editing dan resolusi rendah). Kesimpulannya performansi kamera ini melebihi label harganya, worth every rupiahs …

 image1image2