Technopreneur Workshop Speaker

Berawal dari kebiasaan ngomong mengenai New Digital Economy dan Disruptive Innovation, akhirnya pada suatu kesempatan saya ditodong untuk memberikan materi tentang Technopreneurship. Saya yang latar belakangnya bukan dari bidang Entrepreneurship sempat khawatir juga, jangan jangan saya cuman sok tahu tentang bidang ini. Akhirnya setelah menyelidiki kesana kemari, ternyata Technopreneur ini lebih kental ke nuansa inovasi penggunaan teknologi, startup, solusi inovatif, dan hal hal yang lebih erat ke bidang ICT (atau TIK) (high technology). Technopreneur adalah Entrepreneur (wirausaha) yang melibatkan penggunaan high technology (termasuk ICT). Technopreneur erat hubungannya dengan StartUp dan metode metode kebaruan saat ini seperi crowdsource / crowdfunding, dll

Acara dilangsungkan di plaza clicksquare, dengan peserta sekitar 300 orang, lumayan banyak dan ternyata bidang ini sangat menarik minat audiens yah. Peserta didominasi oleh anak anak SMA yang sedang mengikuti seleksi paskibraka tingkat kota Bandung. Berbicara dengan audiens anak SMA ini sangat menyenangkan, mereka mempunyai rasa ingin tahu yang besar.  Apalagi saya berharap mereka inilah yang nanti akan menjadi tulang punggung ekonomi digital masa depan Indonesia, sehingga saya berusaha menyampaikan dengan bahasa yang sederhana tapi mudah dipahami, terutama berkenaan dengan praktik ekonomi global yang sangat dipengaruhi oleh teknologi TIK. 

Diskusi meliputi fenomena TIK, tantangan / kompetisi pekerjaan, perlunya bangsa kita akan ide ide inovasi / kreatif dengan bantuan teknologi TIK, serta bekal apa saja yang mereka butuhkan untuk bisa survive di masa depan. Banyak juga yang belum terbayang implementasi praktisnya. Saya coba putarkan video youtube tentang Future Vision, setidaknya memberikan gambaran kondisi near future dan itu adalah masa dimana mereka akan berkarya. 93 dari 255 juta penduduk Indonesia terhubung internet, setidaknya dari 93 juta tersebut bisa lahir technopreneur technopreneur handal Indonesia. Semoga .. Amin 

IMG 3299

7th Techno screen

IMG 3309

4 Papers Scopus ICOICT 2017

International Conference on Information and Communication Technology (ICOICT) adalah konferensi berskala internasional terindeks Scopus, dipublikasikan pada IEEE Xplore dan diselenggarakan oleh Telkom University (School of Computing). Tahun 2017 ini ICOICT disellengarakan untuk ke 5 kalinya pada tanggal 27-29 Mei di Malaka Malaysia. Tahun ini ada 4 paper dari lab SCBD FEB yang lolos seleksi dari total 5 paper yang kami submit.

Sepanjang ingatan saya tahun ini adalah ke 4 kalinya saya dan tim lab. SCBD FEB ikut berpartisipasi, mulai dari ICOICT 2014 (2 paper), ICOICT 2015 (3 paper), ICOICT 2016 (2 Paper), dan tahun ini 4 paper. Pengalaman tahun tahun sebelumnya membuktikan bahwa publikasi ICOICT cukup cepat terpublikasi di IEEE Xplore dan Scopus, membuat konferensi ini merupakan konferensi favorit lab kami untuk mempublikasikan hasil penelitian. 

Judul paper paper yang lolos tersebut adalah : 1. Hybrid Sentiment and Network Analysis of Social Opinion Polarization. 2. Social Network Data Analytics for Market Segmentation in Indonesian Telecomunication Industry. 3. Training Data Optimization Strategy for Multiclass Text Classification. 4. Indonesia Infrastructure and Consumer Stock Portfolio Prediction using Artifical Neural Network Backpropagation. 

Tema dan metode pada paper paper tersebut cukup beragam, mulai dari Tema Finance (no.4), Marketing (no.2), sampai dengan Social Behavior (no.1). Sedangkan metode yang digunakan mulai dari sentiment analysis (no.1, no.3), social network analysis (no.1, no.2), artificial neural network / data mining (no.4).

well done Team .. !! 

Untitled 1

acceptance letter to 2017 ICOICT

Komite IT Bandung #Clicksquare #7thSky #CreativeHub

Permasalahan utama bangsa kita untuk bersaingan dalam industri konten kreatif bukanlah karena kekurangan talent untuk membuat konten tersebut, tapi lebih kepada tidak adanya ekosistem yang secara optimal mendukung, memupuk budaya kreatif dan mempromosikan produk kreatif. Faktanya, pemerintah sudah repot dengan permasalahan permasalahan urgen lainnya, sehingga industri kreatif ‘terpaksa’ mencari jalan sendiri untuk bisa bertahan dan berkompetisi. Kondisi ini jauh dari ideal dalam mendukung industri yang kompetitif di tingkat global dan regional.

Tempat kreatif (creative hub) yang representatif terhadap kebutuhan komunitas kreatif sangat diperlukan, oleh karena itu Clicksquare menyediakan tempat yang digunakan untuk pengembangan komunitas kreatif. Tempat ini menyediakan studio, kelas, lab untuk berkreasi seperti studio musik, fotografi, animasi dan lain lain. Komunitas binaan clicksquare akan melakukan aktivitas pengayaan diri dan networking / kolaborasi antar komunitas. Beberapa aktivitas itu adalah antara lain workshop / pelatihan, eksibisi, kompetisi, dan inkubasi. Diharapkan dari aktivitas aktivitas tersebut akan dilahirkan startup startup baru. (oh yah baca wawancara saya dengan dailysocial  secara detail tentang hal ini disini)

Dalam operasionalnya, pengembangan komunitas dan pengayaan konten di bawah tanggung jawab suatu yayasan yang bernama 7thsky Foundation.Yayasan ini terdiri dari berbagai komite yang membawahi banyak komunitas, diantaranya adalah komite musik, komite fotografi, komite film, komite kerajinan tangan, komite wisata kreatif, komite visual arts, dan komite IT. Saya sendiri diminta bantuan untuk mengembangkan komite IT. Sebagai dosen yang membutuhkan aktivitas pengabdian masyarakat maka tanggung jawab ini saya terima dengan senang hati. Beberapa komunitas yang bergabung sampai saat ini dibawah komite IT yang saya urus adalah komunitas Internet of Things (IoT), komunitas Robotic, komunitas Game Development, dan komunitas User Experience (UX).

Komite IT mempunyai Visi : Meningkatkan potensi, kedaulatan, dan daya saing bangsa Indonesia melalui penguasaan TIK dalam menyelesaikan permasalahan kehidupan berbangsa dan bernegara. Misi : Meningkatkan potensi melalui edukasi, kolaborasi, inkubasi bidang TIK sehingga menghasilkan talent yang kompetitif dan berjiwa kewirausahaan. Strategi : Menempa talent melalui program workshop, kompetisi, eksibisi dan inkubasi sehingga talent mempunyai kemampuan dan daya saing tinggi untuk berkompetisi dalam bisnis lokal dan global. Tentunya untuk mewujudkan visi, misi dan strategi diatas, maka perlu kerjasama dan dedikasi / keyakinan yang tinggi demi Indonesia yang lebih baik tentunya. 

Pada tanggal 17 Maret 2017 Clicksquare telah mengadakan acara soft lauch / open house dengan mengundang komunitas komunitas dibandung. Rencananya fasilitas ini akan grand opening pada tanggal 11 Mei 2017 yang dibarengi dengan aktivitas lainnya seperti eksibisi dari komunitas, konferensi, dan lain lain. Jika anda mempunyai komunitas kreatif dan ingin ikut serta bergabung di hub ini, maka jangan ragu ragu kontak yayasan diatas, khusus untuk bidang IT bisa langsung japri personal ke saya …

video clicksquare

live streaming open house

Fenomena #SayaBertanya

Hashtag #SayaBertanya muncul pertama kali pada 6 Februari 2017 setelah mantan presiden SBY memposting tweet yang ditujukan kepada Presiden dan Kapolri. Saya tidak menyoal tweet pak SBY tersebut, tapi saya lebih tertarik viralitas hashtag ini yang ternyata sangat populer. Viralitas tersebut disebabkan kreativitas warga twitter sendiri yang membuat guyonan menggunakan hashtag tersebut, terlepas itu sindiran atau hanya sekedar guyonan. Meme dan variasi kata pendek ini diaplikasikan ke dalam permasalahan pacaran, gebetan, harga bahan pokok, kemacetan, dan hal hal keseharian masing masing orang. Viralitas ini juga menyebar sampai ke facebook, instagram, dan path.

Sayangnya saya baru sempat ambil data sejak tanggal 7 Februari, jadi lumayan telat sehari dari puncak masa populer hashtag tersebut. Akan tetapi walaupun telat, dimana saya mengambil tweets antara tanggal 7-9 februari (selama kurang lebih 50 jam). Saya mendapatkan 25 ribu tweet yang memuat hashtag #SayaBertanya. Menurut saya termasuk lumayanlah, sebenarnya proses crawling sampai saat ini masih tetap berjalan, tapi saya sudah ga sabar untuk segera analisa dan nunggu hasilnya :P. Dari 25 ribu tweet tersebut, saya memperoleh 8613 aktor dan 15898 relasi, cukup lumayan ramai / padat percakapan yang terjadi disana baik dalam bentuk retweet maupun reply / mention.  

Viralitas hashtag ini menunjukan bagaimana dinamisnya bangsa kita di media sosial. Bagaimana kreativitas merubah hal hal yang biasa menjadi suatu hiburan dan menjadi topik pembicaraan serius maupun santai. Fenomena yang asyik untuk diteliti dan dijadikan percobaan perilaku manusia di internet.

Berikut ini pola interaksi hashtag #SayaBertanya

Sayabertanya1

Sayabertanya2

Berikut ini ini adalah aktor aktor dominan dalam percakapan tersebut. @SBYudhoyono paling banyak dimention, diteruskan oleh @jokowi dan @basuki_btp. 3 kelompok terbesar adalah kelompok (modularity class) no 11, 544, dan 540. @jokowi @basuki_btp tidak termasuk ke dalam kelompok dominan. 

Screen Shot 2017 02 09 at 9 14 00 PM  2

Berikut ini contoh contoh tweet tweet dari hashtag ini yang lucu lucu (menurut saya lho)

Screen Shot 2017 02 09 at 8 43 47 PM

Screen Shot 2017 02 09 at 8 43 52 PMScreen Shot 2017 02 09 at 8 44 10 PM

Contoh contoh lain bisa dilihat di artikel (di detik) berikut ini : 

https://inet.detik.com/cyberlife/d-3415131/netizen-heboh-sayabertanya-kepada-presiden

Terpaksa Ngoding, Tapi Seneng …

Beberapa saat yang lalu saya diajak riset bersama oleh peneliti dari Inggris. Topik riset sendiri meneliti bisnis otomotif dengan mengambil data dari media sosial. Karena kesibukan saya yang “super” saat itu, maka saya serahkan proses data collection dan pre-processing ke asisten (mahasiswa). ekspektasi saya proses ini akan berjalan dalam waktu seminggu. Seminggu, dua minggu saya tunggu ternyata belum beres juga. Saya selidiki ternyata ada permasalahan dalam langkah pre-process data yang  saya baru tahu masih menggunakan beberapa langkah manual  … :(. Makanya asisten saya seperti kewalahan mengurusi data ratusan ribu tweet, kalau dibiarkan bisa bisa dia stress, plus saya sendiri udah tidak sabar nungguin hasil crawl dan analisa

Jadinya saya otak atik python supaya proses transformasi data mentah dari twitter ke format social network menjadi lebih cepat dan otomatis. Setelah setengah hari ngoding akhirnya problem pre-process yang berlangsung lama bisa diselesaikan dengan koding saya tersebut. Senengnya dari data twitter sebesar 500mb (200 ribu tweets) bisa saya konvert dalam kurun waktu kurang dari 10 menit. Wah tahu gini proses yang seminggu kemarin bisa diselesaikan dalam 10 menit. Memang kalo ga kepentok problem, sepertinya saya juga ga akan turun tangan ngoding sendiri …:D

Seneng juga kalo koding yang kita bikin bener bener menyelesaikan masalah .. nah akhirnya karena lagi seneng, maka saya teruskan menggambar visualisasi jejaring sosial 3 merk mobil dari data 200 ribu tweet yang saya sebutkan diatas … 

Merk A

merk A

Merk B

merk B

Merk C

merk C

Generate Data Penghasilan Menggunakan Metode Monte Carlo

Berawal dari kesulitan salah satu mahasiswa bimbingan saya untuk melengkapi datanya, maka saya mencoba mencari metode yang mengatasi hal tersebut. Ceritanya penelitian mahasiswa bimbingan saya membuat pengelompokan data pelanggan Telkom berdasarkan jumlah tagihan bulanan dan penghasilan. Tentu saja data penghasilan  tidak akan dipunyai Telkom, dan juga sulit ditemukan dari sumber lain,  maka untuk itu perlu suatu usaha untuk membuat / generate data menggunakan suatu generator tertentu.

Ide awal dari Statistical Inference yang intinya membuat prediksi data populasi dari data sample dan asumsi yang kita punyai, maka kemudian muncul pertanyaan bagaimana kita men generate data penghasilan berdasarkan data dan asumsi yang kita punyai, sehingga data penghasilan yang dihasilkan oleh generator tidak akan berbeda jauh (tingkat error yang rendah) jika dibandingkan dengan penghasilan sebenarnya yang tidak kita ketahui. Asumsi yang kita punyai adalah beberapa wilayah dalam suatu kota akan mempunyai tingkat kesejahteraan yang berbeda. Sebagai contoh seseorang di wilayah A meskipun mempunyai tagihan telkom sama dengan seseorang di wilayah B, belum tentu tingkat penghasilan mereka sama. Besarnya wilayah dalam satu kota tergantung pada definisi yang kita tentukan, apakah setingkat kelurahan, kecamatan, atau berdasarkan nama jalan jalan yang memang terkenal sebagai daerah “kaya”. Sedangkan data yang kita punyai adalah hasil wawancara ke pihak berwenang (pemkot, BPS, dll) untuk menentukan rata rata penghasilan dari suatu wilayah.

Metode Monte Carlo adalah metode untuk men generate data acak berdasarkan input berupa mean, standard deviation dan distribution. Dari ketiga input tersebut, kita sudah mempuyai data mean (rata rata) penghasilan suatu wilayah. Untuk standard deviasi kita tentukan nilai antara 1 sampai 5 yang kita atur berdasarkan kewajaran distribusi penghasilan di satu wilayah tertentu. Untuk distribusi kita tentukan distribusi normal, karena seperti asumsi statistik pada umumnya distribusi yang digunakan adalah distribusi normal. Pertanyaan kemudian muncul, kenapa kita tidak mengambil bilangan acak antara bilangan (penghasilan) minimum dan maksimum ?, jawabannya karena sebaran data penghasilan yang kita peroleh akan menjadi sangat acak (lihat uniform random sampling ) dan terlihat tidak wajar / tidak representatif terhadap penghasilan asli. Video ilustrasi metode Monte Carlo bisa dilihat dibawah ini

Ada banyak software menyediakan simulasi metode Monte Carlo, seperti Mathlab, Wolfram Mathematica, Python, R, dan bahkan Excel. Tapi saya baru mencoba menggunakan Wolfram Mathematica dan Excel.

Perintah di Wolfram Mathematica adalah

rnorms1 = RandomVariate[NormalDistribution[mean, standard deviation], iteration]

Perintah di Excel adalah

=NORMINV(RAND(),mean,standard deviation)

Hasilnya bisa dilihat digambar berikut ini. Dengan nilai mean 3 dan standard deviasi 1, kita peroleh nilai acak tersebut. Sekarang kita bisa bayangkan jika nilai nilai tersebut dikalikan satu juta, maka kita peroleh interval penghasilan disekitar nilai rata rata gaji 3 juta. Cukup sederhana dan masuk akal bukan data penghasilan yang kita peroleh ? ..

Screen Shot 2016 10 01 at 8 54 38 PM

hasil dengan Wolfram Mathematica

Screen Shot 2016 10 01 at 8 57 09 PM

hasil dengan Microsoft Excel

Konferensi 4th InteliSys dan Jurnal Scopus

Konferensi 4th InteliSys yang kami ikuti sudah selesai dilaksanakan pada tanggal 20-12 Agustus 201. InteliSys adalah singkatan dari Interational Conference on Advances in Intelligent Systems in BioInformatics, Chem-Informatics, Business Intelligence, Social Media and Cybernetics. Jadi topik utama konferensi ini adalahpada sistem cerdas untuk bidang bidang yang disebutkan diatas. Output dari konferensi ini adalah ARPN Journal of Engineering and Applied Sciences yang terindeks SCOPUS (Q3). Konferensi ini diadakan bersamaan (waktu dan tempatnya) dengan konferensi international Internet Economics and Psycho Informatics. Terdapat sekitar 100an paper yang mendaftar, dan hanya sekitar 16 paper yang diterima untuk InteliSys. Kami cukup berbangga karena 2 paper kami termasuk kedalam 16 paper yang terpilih pada konferensi tersebut.

Paper pertama yang kami ikut sertakan berjudul “Social Network and Sentiment Analysis for Social Customer Relationship Management in Indonesia Banking Sector” . Paper ini adalah hasil riset saya bersama Aulia, mantan mahasiswa saya yang sekarang sudah lulus dan menjadi Data Scientist di anak perusahaan Telkom Indonesia. Paper kedua berjudul “Top Brand Alternative Measurement Based on Consumer Network Activity” . Paper kedua ini adalah kerja kolaborasi dengan dua mahasiswa saya (yang sudah lulus juga) Viva dan Bebyta. Paper ini adalah hasil riset hibah sekama penelitian dana internal Universitas Telkom 2016. 

Oh yah ada satu hal menarik dari materi yang dibawakan oleh salah satu keynote speaker yaitu Prof. Rudy Setiono dari National University of Singapore (NUS) yang berbicara mengenai Neural Network for Business Intelligence application. materi yang sangat menarik dan membuat saya belajar banyak. Bravo Prof …

 

Image2

 

Image1Image3