Orang Kaya Semakin Kaya, Orang Miskin Susah Kayanya

Kali ini saya akan menjelaskan fenomena “Orang Kaya Semakin Kaya, Orang Miskin Susah Kayanya”  dengan menggunakan analogi hubungan pertemanan di jejaring sosial. Pada saat kita bergabung pada suatu jejaring sosial, baik offline (contoh seperti komunitas hobi) dan online (contoh media sosial), maka kemungkinan besar kita ditarik (tertarik) masuk ke jejaring sosial karena akun akun atau orang orang yang berpengaruh (orang penting) di komunitas offline atau online. Sebagai contoh, saya dulu bergabung twitter karena saya ingin follow akun @infobandung, dan pertama tama akun akun yang saya follow adalah akun akun yang sudah cukup terkenal di twitter. Jadi ilustrasinya bisa dilihat pada video berikut ini :  

Penjelasannya bisa dilihat kalau node (titik) dengan ukuran besar (lebih banyak mempunyai hubungan / teman / follower) akan menarik lebih banyak node node baru yang masuk ke dalam komunitas / jejaring sosial tersebut. Hal ini menjelaskan juga bahwa distribusi jejaring sosial berupa distribusi power law / scale free yang artinya orang yang hubungannya banyak akan menjadi semakin banyak, orang yang hubungan sedikit akan susah bertambah banyaknya. Contoh gambar follower akun twitter @agnezmo dan follower akun saya @andrybrew, dimana akun @agnezmo punya 13,8 juta follower sedangkan @andrybrew cuman punya 1000 follower. Secara keseluruhan jumlah orang seperti @agnezmo di jejaring sosial akan sedikit, sedangkan sebagian besar dan pada umumnya adalah orang orang dengan follower jumlah ratusan-ribuan seperti saya.

Screen Shot 2015 08 23 at 11 19 17 AM

Nah analogi diatas pas khan, orang yang kaya (dalam hal ini kaya follower / teman) akan semakin kaya, sedangkan orang yang biasa biasa aja akan susah bertambah followernya. Coba kita analogikan ke dalam kekayaan materi / uang, bisa khan kita lihat analoginya  …

Advertisements

lensa manual CZ (Carl Zeiss Distagon 35/2 Canon Mount) — for sale

foto dari website bhinnekaPosting kali ini adalah tentang lensa, terus terang sudah lama sekali saya tidak menulis hal teknis tentang fotografi, terakhir saya mempersiapkan materi fotografi untuk mahasiswa jurusan film dan fotografi, adalah sebulan yang lalu dan itupun presentasi powerpoint tentang bisnis fotografi. Ok, saya mulai aja, pada dasarnya saya mengenal fotografi sejak awal menggunakan lensa manual, dan menurut saya lensa manual itu “joy to use” .

Setelah memasuki era digital/DSLR sepuluh tahun yang lalu, saya tidak pernah menikmati manual focus mode dari lensa lensa yang ada di pasaran, beberapa penyebabnya adalah : 1. sensor kecil sehingga viewfinder kecil, sehingga kurang nyaman digunakan untuk manual focusing 2. ring manual focusing yang kurang nyaman digunakan, baik karena bahan (karet), putaran yang tidak lembut dan ring terlalu kecil.

Sejak tahun 2007, saya mulai menggunakan Full Frame DSLR , sejak saat itu saya merasa kembali ke masa masa awal saya memakai kamera, Full Frame itu adalah “joy to use” dan saya jelas tidak mau kembali lagi menggunakan sensor kecil, apalagi pada saat itu, fotografi adalah lahan saya mencari uang, sehingga detail hasil yang sempurna, dan kamera yang nyaman digunakan merupakan faktor terpenting. Selama itu saya belum juga menemukan lensa manual focus yang memuaskan, baru pada tahun 2010 saya mendapatkan lensa Carl Zeiss Distagon 35mm f2 Canon MountCarl Zeiss adalah jaminan kualitas untuk lensa lensa tingkat atas (premium) sejak sebelum era digital.

Lensa ini sangat luar biasa (menurut saya), saya jarang sekali memberikan pujian bagus ke suatu lensa. Foto yang dihasilkan begitu hidup, mempunyai efek “3D”, bokeh yang khas (walaupun cuman f2), dan warna yang enak dilihat. Dan yang terpenting lensa ini tidak pernah memberikan masalah terhadap kamera canon saya, baik masalah metering ataupun misfocus.

Setelah memakai lensa ini selama setahun,  kesulitan saya mulai timbul, saya baru menyadari kalau sudah tidak lagi terlatih menggunakan lensa manual focus, padahal salah satu hobi saya adalah street photography yang membutuhkan kecepatan tangan untuk mencet tombol shutter dan memainkan fokus dalam mengantisipasi moment. Saya beberapa kali memakai lensa ini di Car Free Day Dago, hampir 50% foto saya gagal karena memakai diaragma paling lebar (f2), memang kita bisa antisipasi hal ini dengan memakai diagragma kecil (f5.6-f8) untuk amannya, tapi memang karena foto sekedar “hobi” saya tidak suka maen aman :D. Saya memutuskan untuk menjual lensa ini dan ganti dengan lensa auto focusing seperti Canon 35/1.4 atau Canon 50/1.2 untuk street photography

beberapa contoh foto foto saya yang menggunakan lensa CZ :

portrait blue tint
prewed
street photography (converting b&w)
street photography (converting b&w)

kalau berminat sms/call 08562070375 atau twitter @andrybrew. kondisi pemakaian wajar, box dan kelengkapan lainnya lengkap. soal harga yang wajar aja, harga barunya bisa dilihat disini bhinneka