Pemetaan Profesi Data Scientist

Big Data

Saking seringnya ngobrol tentang Big Data dengan beberapa kalangan, lama lama saya mulai bisa memetakan kebingungan, kegalauan, dan pemahaman masyarakat mengenai topik ini. Kebanyakan masyarakat yang awam dengan Big Data, sering tidak bisa mendefinisikan dengan tepat apa itu Big Data. Mereka hanya tahu bagian input dan output saja ..  proses di tengahnya gelap seperti blackbox. Bahkan beberapa rekan dosen yang masih awam bilang, coba selesaikan masalah penelitian dengan Big Data (maksudnya sih mengambil data dari media sosial), sementara yang lain menggangap bahwa Big Data itu metode pengganti statistik yang lebih canggih. Tentu saja anggapan anggapan tersebut tidak benar, kita semua mengenal istilah Big Data ini, karena ada peluang tersedianya data dalam jumlah besar, sehingga muncul peluang untuk memanfaatkannya. Perkara apakah hasil riset menggunakan Big Data akan lebih baik dari hasil metode konvensional (statistik), yah belum tentu juga.

Jadi Big Data itu apa ?, metode, alat, media atau yang hal lainnya yang kompleks,  tidak masuk dalam kategori yang bisa dipahami (rumit), maka dimasukkan ke dalam Big Data. Lucunya ini kenyataan lho, bahkan misalkan proses optimasi, simulasi, dan model matematika yang sudah ada sejak dulu, sering dianggap sebagai bagian Big Data juga, hanya karena metode itu saat ini sering digunakan (untuk menyelesaikan masalah kompleks) karena ketersediaan data yang semakin mudah. Sisi bagusnya adalah metode metode seperti artificial neural network, simulasi monte carlo, simulated annealing, dan lain lainnya semakin sering dipergunakan dan semakin dikenal.

Data Science

Supaya tidak terjebak istilah Big Data yang ambigu, maka saya sarankan kita bicaranya dari sisi Data Science saja. Data Science adalah suatu ilmu yang berpusat pada data sebagai komoditi utamanya. Beberapa metode dan kepentingan dari latar belakang kelimuan yang berbeda digunakan. Ilmu ilmu tersebut antara lain adalah ilmu komputer, matematika / statistika, bisnis, dan domain / konteks permasalahan.  Orang / talentanya disebut sebagai Data Scientist, dalam bahasa Indonesia adalah Ilmuwan Data. Kebetulan saya dan beberapa rekan ilmuwan serta praktisi membuat wadah Asosiasi Ilmuwan Data Indonesia (AIDI) (silahkan dicek,  boleh kok bergabung). Masih ingat postingan saya beberapa tahun yang lalu tentang tulisan Davenport dan DJ Patil di HBR bahwa “Data Scientist is the most sexiest job in 21th century” pada tahun 2012. Ternyata 5 – 6  tahun kemudian tetap sexy lho, cek disini dan disini.

Karena begitu sexy nya profesi ini, maka saya mulai melakukan riset kecil kecilan, kenapa profesi ini begitu dicari. Industri begitu kesulitan, dan bahkan putus asa mencari talenta yang bisa melakukan analisa, menceritakan pola dari data, dan membuat prediksi. Karena latar belakang pendidikan lulusan universitas pada umumnya sering terkotak kotak pada kelompok keilmuan tertentu, dan belum bisa berkomunikasi dengan bidang lain. Sebagai gambaran, daripada memberi gaji 1x ke programmer, 1x ke modeler, dan 1x ke orang bisnis (total 3x gaji), lebih baik perusahaan memberikan gaji 5x ke 1 orang yang menguasai ketiga domain tersebut. Nah talenta / orang ini yang disebut sebagai Data Scientist.

Pemetaan Data Scientist

Data Analytics Body of Knowledge

Data Science Knowledge Area

 

Data Engineering Body of Knowledge

 

Hasil baca sana sini, diperolah bahwa seorang Data Scientist itu harus mempunyai Knowledge Area (area pengetahuan) di bidang Data Analytics, Data Engineering, Data Management, Research Methodology, Project Management, Business Analytics, dan Domain Knowledge. Masing masing dari area pengetahuan diatas dibagi lagi menjadi keilmuan keilmuan kecil yang disebut sebagai Body of Knowledge (BoK) yang diselaraskan dengan cabang keilmuan, sehingga kita bisa identifikasi keilmuan besarnya masuk ke dalam ilmu apa. Peta sementara dari 3 gambar diatas, menunjukkan betapa kompleksnya keilmuan data tersebut, tidak salah kalo memang pekerjaan ini disebut pekerjaan sexy.

Oh ya sebagai penutup blog singkat ini.  Dari segitu banyak “maunya” industri mencari talenta Data Scientist yang canggih, sampai saat ini belum terlihat adanya daftar / framework kompetensi dari seorang Data Scientist yang diinginkan oleh industri, atau bahkan kompetensi secara global. Ini menjadi PR penting dalam rangka mengurangi gap antara lulusan universitas dan industri.

Advertisements

Polarisasi Opini dan Mekanisme Perpecahan Bangsa

Bicara mengenai keramaian di medsos tentang berbagai isu tidak akan pernah ada habisnya. Mudah sekali melihat postingan saling hujat, permusuhan, gosip, kecemburuan dan hal hal negatif lainnya terlontar. Menjelang Pemilu 2019, situasi ini menjadi lebih tidak karuan, bahkan makin kompleks. Kalau kita mengikuti alur opini yang ada tentu akan sangat menghabiskan waktu dan tenaga. Saya pernah share di entry ini mengenai bagaimana seharusnya kita bersikap. Saya tulis bukan berarti kita harus ignorant, akan tetapi saya menyarankan untuk memahami kelompok yang mempunyai pendapat berlawanan dengan kita atau kelompok kita. Sebelum kita menceburkan diri dalam suatu kelompok/opini yang ada, ada baiknya kita juga pahami kelompok lawan. 

Pada saat saya kuliah S2 di Prancis, bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa Prancis, akibatnya saya cukup kerepotan memahami percakapan sehari hari. Secara tidak langsung, terbentuk kelompok pertemanan diantara temen kuliah, yaitu kelompok berbahasa native , dan kelompok mahasiswa asing yang bahasa Prancisnya pas pasan. Pembentukan kelompok secara natural ini disebut sebagai Homophily dalam metode jejasing sosial ( Social Network Analysis ). Singkat kata jurang pembeda antara kami mahasiswa asing dan mahasiswa lokal menjadi semakin jauh waktu itu, karena komunikasi kami yang tidak lancar (dan cukup merepotkan / perlu usaha besar)

Homophilly terjadi karena persamaan hobi, bahasa, budaya, dan motif lainnya. Contoh lebih mudah disekitar kita adalah contoh orang jawa dan orang sunda. Guyonan orang jawa akan terasa lucu bagi orang jawa, jika diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia jadi ga lucu, apalagi ke dalam bahasa sunda. Makanya kalo orang jawa bikin guyonan, yang ketawa hanya orang jawa. Demikian pula dengan orang sunda. Perbedaan bahasa dan budaya ini membuat orang jawa lebih suka berkumpul dengan orang jawa, demikian juga dengan orang sunda. Sangat sedikit jejaring sosial berbentuk Heterophilly (lawan Homophily).

Kembali ke medsos, saat ini analogi Homophily sedang terjadi, banyak diantara kita yang tidak setuju opini teman kita, maka dengan mudah melakukan unfriend, kita hanya menerima pertemanan dari orang orang yang seide dengan kita. Akibatnya opini akan bergaung (amplify) di dalam kelompoknya sendiri. Sementara diseberang sana kelompok lawan juga mengalami hal yang sama. Jurang opini antar kelompok semakin besar, sehingga membahayakan persatuan organisasi (termasuk negara). Saya amati jika seseorang sudah punya opini, maka yang dilakukan adalah mencari persetujuan diantara lingkungan sosialnya akan opininya tersebut. Ini disebut sebagai predefined opinion. Orang orang dengan predefined opinion umumnya sudah sulit diubah opininya. Oleh kerena sebenarnya adu argumentasi di medsos dengan tujuan merubah pandangan orang lain menurut saya sia sia saja.

Gambar berikut ini contoh visualisasi Homophily pada studi anak anak SMP di Amerika, yaitu pertemanan antara anak anak kulit putih dan kulit hitam dan berwarna lainnya. Terlihat polarisasi pengelompokan antara dua kubu. Hal ini menunjukkan Homophily adalah fenomena umum. Gambar diambil dari buku Newman (Network: An Introduction).

Screen Shot 2018 02 26 at 18 40 07  2

Terus solusinya gimana dong. Ide saya sih adalah bagaimanapun perilaku jaringan adalah agregasi dari perilaku individu, jadi edukasi / literasi tentang bahaya perpecahan ini layak diberikan. Dengan pemahaman tersebut, maka saya yakin polarisasi yang ekstrim tidak akan terbentuk. Terdengar mudah yah, padahal susah prakteknya … ya saya tahu .. memang susah mencari solusi mudah supaya tidak terjadi perpecahan bangsa. Cara lain yah dari tokoh atau pemimpin kelompok supaya meredam jurang pemisah antar kelompok. 

Review Honda PCX vs Yamaha NMax (2018)

Hari minggu pagi ini, saya kedatangan temen riding saya kang Firman yang baru saja memperoleh motor Honda All New PCX 2018 (PCX 2018) warna merah. PCX 2018 ini adalah motor CKD dari Honda yang diluncurkan bulan desember 2017 kemarin. Karena dirakit di Indonesia, maka Honda PCX ini harganya menjadi sangat murah (yaitu 30.8 juta untuk Bandung), padahal Honda PCX tahun tahun sebelumnya diimport dari Thailand mempunyai bandrol harga mencapai 42 juta. Dengan harga tersebut maka Honda PCX berkompetisi langsung dengan Yamaha NMax di kelas matic premium. Yamaha NMax saat ini pas berusia 3 tahun di Indonesia, kebetulan Yamaha NMax saya adalah keluaran pertama pada bulan februari/maret 2015.  Saya akan coba review singkat bagaimana performansi Honda PCX dibandingkan dengan Yamaha NMax saya.  

 

IMG 8569

 

Dibandingkan dengan PCX tahun sebelumnya (PCX CBU), maka PCX 2018 ini bodynya jauh lebih besar. Tepatnya lebih besar dari NMax saya, padahal PCX CBU bodynya lebih kecil dari NMax. Dengan pemekaran body secara signifikan maka kesan skutik gambot pada PCX 2018 sangat berasa. Setelah diamati body PCX 2018 ini sangat rapih, hampir tidak ditemui adanya baut yang kelihatan dari luar. Kerapihan ini membuat sedikit kerepotan pada saat ingin membongkar bodynya. Kang Firman cerita bahwa beliau ingin mencoba mencopot windshield, akan tetapi sulit sekali dilakukan, berbeda dengan NMax atau bahkan PCX CBU sebelumnya yang cukup mudah untuk membuka body. Ground clearance PCX 2018 juga lebih tinggi dari NMax (bisa dilihat dari gambar atas). Walaupun body PCX lebih besar, tapi ternyata motor ini lebih ringan dari NMax terutama terasa pada mekanisme pasang standard ganda, dimana terasa PCX 2018 berasa sangat ringan.

Nah bagaimana dengan posisi duduknya, menurut saya posisi standard PCX 2018 kurang nyaman, karena jok terlalu tinggi, sedangkan stang motornya terlalu rendah. Memang akan perlu sedikit penyesuaian antara jok dipapras atau stang ditinggiin. Penyesuaian ini cukup mudah, menurut saya begitu posisi duduk sudah sempurna maka kenyamanan akan meningkat signifikan. Suara mesin sangat halus, suspensi empuk, jadi ngebayangin untuk touring jarak jauh PCX ini tidak akan berasa capek. Overall kenyamanan berkendaraan menurut saya PCX 2018 lebih unggul dari NMax

IMG 8525

 

Untuk akselerasi NMax jauh lebih unggul, jadi kalo suka speed sebaiknya pake NMax, sedangkan kalau nyantai PCX 2018 jauh lebih unggul. Motor NMax saya sebagai contoh sepertinya ga mau (ga enak) kalau buat riding santai, tetapi jika dipake kecepatan tinggi malah berasa enak motornya. Menurut mas Awal (temen riding saya juga) yang review PCX bareng saya ini, bilang bahwa PCX malah lebih enak buat cornering dibanding NMax, cuman nunggu settingan yang pas aja. Saya sendiri tidak nyobain cornering tadi.

Untuk bagasi, NMax lebih luas dari PCX. Dek bawah bagasi NMax rata sehingga memberikan ruang lebih, sementara untuk PCX ada tonjolan di tengah dan di bagian belakang, sehingga space bagasi berkurang secara signifikan. Akan tetapi daya tampung 1 helm full face sepertinya  juga masih bisa dimasukkan ke bagasi PCX. Untuk fitur PCX lebih lengkap, motor ini sudah dilengkapi dengan keyless starter, juga immobilizer. Bentuk dashboardnya pun jauh lebih futuristik dan keren dari NMax. Mungkin bentar lagi NMax juga akan ada perombakan fitur, melihat fitur PCX yang begitu lengkap. 

Overall jika anda saat ini sedang mencari skutik premium maka PCX merupakan pilihan yang yang paling bagus, kecuali anda mencari yang bagasinya lebih besar,  akselerasi yang lebih cepat, atau aksesoris yang sudah banyak di pasaran, maka NMax merupakan pilihan terbaik. Sebagai pemilik NMax yang sudah berusia 3 tahun maka saya tergoda untuk membeli PCX, ini lebih karena saya sudah bosan lihat NMax, walaupun motornya sendiri masih sangat enak. Tentu saya akan membeli PCX, dengan syarat NMax saya sudah laku terjual ..

Semoga bermanfaat. 

 

IMG 8570

IMG 8518

IMG 8519

Liburan Sekitar Bandung

Baru dua bulan tahun 2018 berjalan, kita sudah mempunyai dua long weekend, yaitu yang pertama 30 januari – 1 Februari, dan yang kedua 16 Februari – 18 Februari. Berhubung melakukan perjalanan jauh pada saat long weekend adalah hal yang menyebalkan, maka saya dan istri memutuskan liburan long weekend dengan mencari penginapan di sekitar bandung yang dekat dengan alam. Alasan kami adalah karena kami sekeluarga termasuk jarang eksplorasi bandung. Walaupun saya sendiri sudah sering eksplorasi pelosok bandung dengan menggunakan motor atau bareng teman teman yang suka touring. Tentunya eksplorasi tersebut menjadi tidak praktis kalo dilakukan naik mobil (full sekeluarga), sedangkan naik motor ga bisa bawa semua personil keluarga … 

Long weekend pertama kami menginap di Imah Seniman, lokasi di kolonel masturi lembang. Imah Seniman lokasinya terletak di sebuah lembah, sehingga menuju dan pergi dari lokasi ini jalannya cukup menantang dan harus hati hati. Situasi villa sangat nyaman, dengan nuansa tiap villa yang dilewati sungai sungai alam kecil (walaupun sungai buatan). Villa kayu yang kami tempati cukup luas untuk 4 orang (2 tempat tidur, 2 TV). Perabot mulai ranjang, meja, kursi, kamar mandi yang di dominasi kayu serasa kami menginap di pedesaan, padahal lokasi tidak jauh dari kota. Tidur malam pun diiringi suara aliran sungai yang mengalir di depan dan di samping villa. Pagi hari, saya dan istri mengisi kegiatan dengan lari ke lembang, perjalanan pulang pergi dari imah seniman ke lembang sekitar 10km dengan tanjakan yang cukup menantang. Pulangnya sempet borong belanja sayuran ke pasar lembang. Secara umum, menginap di Imah Seniman sangat menyenangkan dan menyegarkan pikiran. Tempat ini saya rekomendasikan.

Long weekend kedua kami menginap di Dulang, lokasinya tetap di area lembang tapi di sisi yang berbeda, tepatnya di desa pagerwangi. Menuju lokasi Dulang cukup merepotkan, kami sempat 2 kali kesasar mengikuti petunjuk google map. Ada beberapa jalan yang tidak bisa dilalui jika mengikuti petunjuk google map tersebut. Villa yang kami tempati lokasinya paling strategis yaitu dekat dengan kolam renang yang pemandangannya menghadap ke arah kota bandung. Kebetulan saat weekend tersebut cuaca sangat bersahabat, sehingga kami memperoleh pemandangan yang luar biasa. Villa rumah kayu yang kami tempati tidak seluas di Imah Seniman, namun pengaturan ruangannya efisien sehingga tidak berasa sempit. Selama di Dulang, kami habiskan dengan maen air, nongkrong di roof view melihat sunset yang sangat indah weekend itu, dan tidak lupa lari ke gunung batu yang punya view kota bandung dari atas yang luar biasa. BTW, lari / jalan ke gunung batu ini sangat direkomendasikan kalo kita nginep di Dulang, silahkan di coba sendiri  ..

Selamat mencoba kedua tempat tersebut ….

 

IMG 7003

View Kolam Renang Dulang

IMG 7076

Villa yang kami tempati di Dulang

IMG 7677

IMG 7678

Sunset

IMG 7430

berlari ke gunung padang

IMG 7429

berlari ke gunung padang

IMG 7665

Mendeley Tempat Penyimpanan Hasil Publikasi Peneliti

Bagi seorang peneliti, salah satu permasalahan terbesar adalah pada pengaturan paper, baik paper hasil publikasi sendiri ataupun paper orang lain yang digunakan sebagai referensi. Saya sendiri sering kewalahan dengan banyaknya paper hasil unduhan yang saya simpan. Sehingga sering kejadian beberapa paper diunduh ulang beberapa kali. Peneliti yang mempunyai jumlah paper banyak pun, sering kewalahan dalam melakukan inventarisasi papernya sendiri. Saya biasanya meletakkan hasil publikasi dan informasi pendukungnya pada Academia dan ResearchGate (tidak semua). Sejak beberapa saat saya mencari alat atau layanan untuk mempermudah mengatur publikasi riset, saya menginginkan alat atau layanan untuk pengaturan file publikasi pada komputer sekaligus publikasinya di web dalam bentuk web portofolio.

Mendeley ternyata mempunyai layanan seperti yang saya perlukan. Walaupun layanan mereka berbayar, tapi mereka menyediakan layanan gratis sampai dengan ruang penyimpanan 2GB, selebihnya kita harus membayar.  Tersedia aplikasi desktop / mobile dengan kemampuan drag and drop file pdf / doc. Pengaturan informasi  dokumen seperti author, abstract, keyword. Untuk beberapa paper yang terindeks scopus, abstract dan keterangan lainnya otomatis sudah terisikan.  Yang paling utama adalah fitur sinkronisasi dokumen pada desktop / mobile ke halaman web pribadi pada mendeley, sehingga memudahkan peneliti untuk update konten publikasi pada halaman web pribadinya.

Silahkan dicoba dan semoa bermanfaat

 

Screen Shot 2018 02 08 at 06 56 38

tampilan web pribadi

Screen Shot 2018 02 08 at 07 03 04  2

tampilan aplikasi desktop

Sidang Promosi Doktor

5 Januari 2018, salah satu milestone kehidupan berhasil saya lewati. Hari ini akan selalu terkenang sebagai hari dimana saya mencapai puncak tertinggi pendidikan formal, yaitu secara resmi menyandang gelar doktor. Gelar ini saya peroleh dari Program Studi Doktor Sekolah Teknik Elektro dan Informatika – Institut Teknologi Bandung (STEI -ITB). Perjuangan selama 5 tahun (lebih 6 bulan), akhirnya terbayar tuntas. Banyak suka dan duka, termasuk kadang pede kadang galau, kadang males kadang rajin, kadang semangat kadang bosan, kadang lancar kadang buntu dan lain sebagainya. Intinya banyak sekali pelajaran berharga (akademis maupun non akademis) yang menempa saya menjadi lebih dewasa. Banyak hal yang saya kira saya tahu banyak, ternyata saya ga tahu apa apa. Suatu pengalaman yang membuat kita menjadi lebih “humble” dalam menyikapi masalah.

Terima kasih sebesar besarnya tentunya kepada ko promotor saya pak Budi Rahardjo yang pertama kali mengijinkan saya untuk melakukan penelitian disertasi bersama beliau pada tahun 2012, sekaligus mendiskusikan topik yang sesuai dengan minat saya mengenai jejaring sosial, sebagai info sebetulnya keahlian beliau di bidang security, tapi karena pengetahuan yang luas jadinya beliau bersedia membimbing pada topik saya. Terima kasih juga kepada promotor saya Prof. Kuspriyanto yang banyak memberikan masukan (dan tentunya wejangan) mengenai hal akademik maupun non akademik. Salah satu teori inti saya mengenai graf, kebetulan ko promotor saya pak Yoga Priyana cukup mumpuni di bidang ini, sehingga banyak memberikan masukan dadn tantangan yang sangat berharga mengenai metode yang saya ajukan. Saya sangat berterima kasih kepada beliau bertiga (tim pembimbing: promotor dan 2 ko promotor).

Disertasi saya berjudul “Strategi Pembentukan Sampel Graf Pada Jejaring Sosial Skala Besar untuk Reduksi Proses Perhitungan Betweenness Centrality”. Judul ini berkaitan dengan topik model jejaring sosial (Social Network Analysis), Metrik Centrality, Big Data, dan Kompresi / Reduksi Graf. Disertasi saya memberikan solusi bagaimana ekstraksi pengetahuan dari data jejaring sosial yang berukuran sangat besar (skala jutaan aktor), sehingga bisa mendukung kebutuhan informasi secara cepat (real-time). Banyak kebutuhan  akan metode alternatif atau pelengkap riset/industri untuk mengukur perilaku manusia yang biasanya menggunakan metode wawancara atau kuesioner, dimana kedua metode tersebut tidak cepat dan tidak murah. Topik disertasi saya garis besarnya menawarkan cara cepat dan murah memenuhi kebutuhan tersebut.

Akhir satu perjalanan, sekarang waktunya memulai perjalanan lainnya, perjalanan untuk berkarya …

Berikut ini beberapa dokumentasi sidang promosi doktor saya pada tanggal 5 januari 2018.

IMG 4515

bersama supporter utama

IMG 4453

bersama Pak Budi Rahardjo (Ko Promotor)

IMG 4452

bersama ketua sidang, dekan SPS, tim pembimbing, dan tim penguji sidang buka

video saat pengumuman yudisium 

Menembus Kemacetan Bandung (Acara sharing BPS dan Konferensi ICoDIS)

Kemarin saya mendapatkan undangan untuk mengisi dua buah acara di bandung yang lokasinya berjauhan. Satu lokasi di ujung utara , di hotel grand mercure, jalan setiabudhi (di sekitaran area rumah sosis) dan satu lagi di ujung selatan, di kampus universitas telkom, jalan terusan buah batu. Acara di grand mercure adalah menjadi narasumber materi “Big Data Analytics Implementation” untuk Badan Pusat Statistik jam 8 pagi, sedangkan di universitas telkom adalah menjadi moderator plenary session pada International Conference on Data and Information Science (ICoDIS) jam 13 siang.

Bagi yang tinggal di Bandung tentu bisa membayangkan perjuangan menembus kemacetan yang makin hari makin tidak bisa diprediksi. Terutama dengan ada perbaikan jalan layang pasupati, kondisi pintu masuk GT pasteur yang menyempit, kemacetan luar biasa daerah terusan buah batu, belum lagi kemacetan daerah lain yang tidak terduga.

Akhirnya saya membujuk panitia acara BPS untuk memperbolehkan saya selesai jam 11 (dari rencana jam 12). Alhamdulilah perjalanan turun dari setiabudhi sampai GT pasteur lumayan lancar, hanya memakan waktu 30 menit, dari GT pasteur ke GT buah batu juga memakan waktu 30 menit. Tapi dari GT buah batu ke kampus telkom siang kemarin macetnya melebihi ekspektasi. Saya menghabiskan waktu 50 menit sampai ke gedung acara konferensi. Untungnya acaranya yang jam 13 dimulai agak telat, sehingga saya masih sempat sholat dan makan siang dulu. Total waktu dari setiabudi ke kampus univ telkom adalah 1 jam 50 menit.

Kesimpulannya jangan lagi lagi memenuhi undangan acara dalam sehari dalam jarak yang berjauhan seperti yang saya lakukan. kemarin saya termasuk beruntung karena hanya menemui satu titik kemacetan saja. Next time it could be worse

berikut foto acara sharing BPS dan konferensi ICoDIS

Iphone Jaman NOW yang Ringkih ..

Kalau tahun kemarin saya ditanya bakal beli HP apa, dengan mantap saya pasti jawab “Iphone”. Tidak terbersit bakal beli HP selain Iphone. Sebagai info, saya sudah pernah menggunakan iphone dari seri 3, 4, 4s, 5c, 5s, 6, 6Plus, 7plus. Beberapa saat diantaranya saya juga pernah pake Blackberry (lupa tipenya), Nokia Lumia 920, dan Samsung Galaxy Tab. Semuanya tidak senyaman iphone (dalam hal experience), kecuali lumia 920 yang kameranya luar biasa keren. Iphone 3 sampai dengan 5 sangat memuaskan, terutama tahan banting, karena beberapa kali jatuh hp tidak apa apa, kalaupun body dan display kebaret baret masih bisa diganti dengan part kw, lalu iphone bisa kembali berfungsi seperti sedia kala.

Nah sejak seri 6, iphone berasa ringkih kualitasnya. Body pelat tipis dan gampang rusak. Saya mengalaminya sendiri pada iphone 6 plus yang saya masukkan ke saku jaket dan tidak sengaja kedudukan. Akibatnya bagian atas iphone tersebut bengkok, dan ini berakibat sangat fatal, karena disana ada modul kamera, dan part part penting lainnya. At the end of the story walaupun iphone tersebut ga mati, tapi unrepairable, akhirnya saya ikhlaskan uang melayang untuk berganti iphone baru lagi. 

Kejadian kedua pada iphone 7 plus. Saat sedang olahraga lari, iphone selalu saya bawa dalam tas lari, berhubung tas lari itu sempit maka casingnya harus copot. Seperti diketahui body dari iphone 7 plus jet black itu licin, apalagi jika tangan berkeringat. Suatu kejadian karena licin, iphone terlepas dari tangan dan jatuh ke lantai, Walaupun jatuh tidak sampai merusak layar atau body secara signifikan, tapi cukup membuat tombol sleep / wakeup penyok dan berakibat tidak bisa berfungsi. Saya bawa ke servis resmi iBox, mereka tidak bisa memperbaiki karena adanya lapisan anti air yang menutupi bagian mesin iphone. Untuk problem seperti itu, biasanya langsung ganti unit baru. Untuk ganti unit baru harus membayar 50% harga iphone (sekitar 7.5 juta rupiah). Tempat servis yang biasa bongkar iphone di BEC dan Baltos pun tidak ada yang berani membongkar dan memperbaiki tombol iphone 7 plus tersebut. Ya akhirnya saya biarkan aja iphone dipake tanpa menggunakan kedua fungsi tombol tersebut.

Dari kedua kejadian diatas saya jadi berpikir, jaman generasi iphone sebelumnya, dengan pemakaian heavy duty dan bolak balik jatuh tapi iphone kuat kuat saja. Kenapa generasi baru jadi ringkih dan ga reliabel begini.

Kedepannya mungkin harus beli android, mungkin experience android sudah lebih bagus sekarang ini, mungkin tahun depan udah au revoir iphone  …. 

16105486 10154725609205202 2241993096425288016 n

iphone 6 plus saya yang bengkok, untuk iphone 7 plus saya tidak ada fotonya, karena ga ada kamera lagi

Kebawa Demam Lari tapi Susah Naik Kelas

sudah sekitar sebulan terakhir saya lagi keranjingan lari. hobi yang sangat telat, kenapa ga dari dulu dulu, padahal yang ngajakin banyak banget. terus terang dulu saya baru lari 100 meter nafas udah abis, bahkan sering diketawain istri yang larinya lebih lambat tapi tahan jarak jauh, sedangkan saya sering “gaspol” di awal lari tapi cepet abis bensin duluan

lihat temen temen bisa lari 1km tanpa henti, saya terkagum kagum. bahkan ada yang dulunya persis kaya saya, tapi sekarang bisa lari 5km (5K) tanpa henti. akhirnya saya coba dengan kecepatan yang lebih lambat, dan ternyata bisa juga 1km, 2km, dan sampai 5km tanpa henti. prosesnya tentu ga langsung, perlu beberapa kali lari sampai akhirnya bisa 5K tanpa henti.

kebetulan saya beli gelang murah (mi band) untuk monitor langkah perhari dan heartrate. jadi kalo ada hari dimana saya ga memenuhi target 8000 langkah, rasanya kok jadi ga enak, sehingga mau ga mau dipaksakan lari buat memenuhi target. sekarang target saya tiap 2 hari sekali harus lari 5K. so far, target ini bisa terpenuhi.

jarak terjauh yang bisa saya capai nonstop adalah 7K. pace selalu di sekitar 8 menit an per km, ada satu dua kali bisa mencapai pace 7 koma sekian menit pada kondisi luar biasa. saya perhatiin kecepatan dan kenyamanan lari berbanding lurus dengan kesiapan tubuh. saat badan kurang siap, maka lari jadi berat. kurang siap biasanya terjadi kalo lari sore hari pulang kantor, dimana badan belum sempat istirahat atau minum yang cukup. kalo larinya pagi sebelum berangkat kantor biasanya lari berasa nyaman, dan seringnya saya bisa merasakan meditasi dari lari yang nyaman.

sekarang targetnya mau naik kelas, yaitu meningkatkan pace atau menambah jarak menjadi 10K, doakan semoga bisa tercapai dengan nyaman (bukan tercapai dengan maksa)

kalau sudah naik kelas nanti saya tulis entry blog lagi ..