Menembus Kemacetan Bandung (Acara sharing BPS dan Konferensi ICoDIS)

Kemarin saya mendapatkan undangan untuk mengisi dua buah acara di bandung yang lokasinya berjauhan. Satu lokasi di ujung utara , di hotel grand mercure, jalan setiabudhi (di sekitaran area rumah sosis) dan satu lagi di ujung selatan, di kampus universitas telkom, jalan terusan buah batu. Acara di grand mercure adalah menjadi narasumber materi “Big Data Analytics Implementation” untuk Badan Pusat Statistik jam 8 pagi, sedangkan di universitas telkom adalah menjadi moderator plenary session pada International Conference on Data and Information Science (ICoDIS) jam 13 siang.

Bagi yang tinggal di Bandung tentu bisa membayangkan perjuangan menembus kemacetan yang makin hari makin tidak bisa diprediksi. Terutama dengan ada perbaikan jalan layang pasupati, kondisi pintu masuk GT pasteur yang menyempit, kemacetan luar biasa daerah terusan buah batu, belum lagi kemacetan daerah lain yang tidak terduga.

Akhirnya saya membujuk panitia acara BPS untuk memperbolehkan saya selesai jam 11 (dari rencana jam 12). Alhamdulilah perjalanan turun dari setiabudhi sampai GT pasteur lumayan lancar, hanya memakan waktu 30 menit, dari GT pasteur ke GT buah batu juga memakan waktu 30 menit. Tapi dari GT buah batu ke kampus telkom siang kemarin macetnya melebihi ekspektasi. Saya menghabiskan waktu 50 menit sampai ke gedung acara konferensi. Untungnya acaranya yang jam 13 dimulai agak telat, sehingga saya masih sempat sholat dan makan siang dulu. Total waktu dari setiabudi ke kampus univ telkom adalah 1 jam 50 menit.

Kesimpulannya jangan lagi lagi memenuhi undangan acara dalam sehari dalam jarak yang berjauhan seperti yang saya lakukan. kemarin saya termasuk beruntung karena hanya menemui satu titik kemacetan saja. Next time it could be worse

berikut foto acara sharing BPS dan konferensi ICoDIS

Advertisements

Iphone Jaman NOW yang Ringkih ..

Kalau tahun kemarin saya ditanya bakal beli HP apa, dengan mantap saya pasti jawab “Iphone”. Tidak terbersit bakal beli HP selain Iphone. Sebagai info, saya sudah pernah menggunakan iphone dari seri 3, 4, 4s, 5c, 5s, 6, 6Plus, 7plus. Beberapa saat diantaranya saya juga pernah pake Blackberry (lupa tipenya), Nokia Lumia 920, dan Samsung Galaxy Tab. Semuanya tidak senyaman iphone (dalam hal experience), kecuali lumia 920 yang kameranya luar biasa keren. Iphone 3 sampai dengan 5 sangat memuaskan, terutama tahan banting, karena beberapa kali jatuh hp tidak apa apa, kalaupun body dan display kebaret baret masih bisa diganti dengan part kw, lalu iphone bisa kembali berfungsi seperti sedia kala.

Nah sejak seri 6, iphone berasa ringkih kualitasnya. Body pelat tipis dan gampang rusak. Saya mengalaminya sendiri pada iphone 6 plus yang saya masukkan ke saku jaket dan tidak sengaja kedudukan. Akibatnya bagian atas iphone tersebut bengkok, dan ini berakibat sangat fatal, karena disana ada modul kamera, dan part part penting lainnya. At the end of the story walaupun iphone tersebut ga mati, tapi unrepairable, akhirnya saya ikhlaskan uang melayang untuk berganti iphone baru lagi. 

Kejadian kedua pada iphone 7 plus. Saat sedang olahraga lari, iphone selalu saya bawa dalam tas lari, berhubung tas lari itu sempit maka casingnya harus copot. Seperti diketahui body dari iphone 7 plus jet black itu licin, apalagi jika tangan berkeringat. Suatu kejadian karena licin, iphone terlepas dari tangan dan jatuh ke lantai, Walaupun jatuh tidak sampai merusak layar atau body secara signifikan, tapi cukup membuat tombol sleep / wakeup penyok dan berakibat tidak bisa berfungsi. Saya bawa ke servis resmi iBox, mereka tidak bisa memperbaiki karena adanya lapisan anti air yang menutupi bagian mesin iphone. Untuk problem seperti itu, biasanya langsung ganti unit baru. Untuk ganti unit baru harus membayar 50% harga iphone (sekitar 7.5 juta rupiah). Tempat servis yang biasa bongkar iphone di BEC dan Baltos pun tidak ada yang berani membongkar dan memperbaiki tombol iphone 7 plus tersebut. Ya akhirnya saya biarkan aja iphone dipake tanpa menggunakan kedua fungsi tombol tersebut.

Dari kedua kejadian diatas saya jadi berpikir, jaman generasi iphone sebelumnya, dengan pemakaian heavy duty dan bolak balik jatuh tapi iphone kuat kuat saja. Kenapa generasi baru jadi ringkih dan ga reliabel begini.

Kedepannya mungkin harus beli android, mungkin experience android sudah lebih bagus sekarang ini, mungkin tahun depan udah au revoir iphone  …. 

16105486 10154725609205202 2241993096425288016 n

iphone 6 plus saya yang bengkok, untuk iphone 7 plus saya tidak ada fotonya, karena ga ada kamera lagi

Kebawa Demam Lari tapi Susah Naik Kelas

sudah sekitar sebulan terakhir saya lagi keranjingan lari. hobi yang sangat telat, kenapa ga dari dulu dulu, padahal yang ngajakin banyak banget. terus terang dulu saya baru lari 100 meter nafas udah abis, bahkan sering diketawain istri yang larinya lebih lambat tapi tahan jarak jauh, sedangkan saya sering “gaspol” di awal lari tapi cepet abis bensin duluan

lihat temen temen bisa lari 1km tanpa henti, saya terkagum kagum. bahkan ada yang dulunya persis kaya saya, tapi sekarang bisa lari 5km (5K) tanpa henti. akhirnya saya coba dengan kecepatan yang lebih lambat, dan ternyata bisa juga 1km, 2km, dan sampai 5km tanpa henti. prosesnya tentu ga langsung, perlu beberapa kali lari sampai akhirnya bisa 5K tanpa henti.

kebetulan saya beli gelang murah (mi band) untuk monitor langkah perhari dan heartrate. jadi kalo ada hari dimana saya ga memenuhi target 8000 langkah, rasanya kok jadi ga enak, sehingga mau ga mau dipaksakan lari buat memenuhi target. sekarang target saya tiap 2 hari sekali harus lari 5K. so far, target ini bisa terpenuhi.

jarak terjauh yang bisa saya capai nonstop adalah 7K. pace selalu di sekitar 8 menit an per km, ada satu dua kali bisa mencapai pace 7 koma sekian menit pada kondisi luar biasa. saya perhatiin kecepatan dan kenyamanan lari berbanding lurus dengan kesiapan tubuh. saat badan kurang siap, maka lari jadi berat. kurang siap biasanya terjadi kalo lari sore hari pulang kantor, dimana badan belum sempat istirahat atau minum yang cukup. kalo larinya pagi sebelum berangkat kantor biasanya lari berasa nyaman, dan seringnya saya bisa merasakan meditasi dari lari yang nyaman.

sekarang targetnya mau naik kelas, yaitu meningkatkan pace atau menambah jarak menjadi 10K, doakan semoga bisa tercapai dengan nyaman (bukan tercapai dengan maksa)

kalau sudah naik kelas nanti saya tulis entry blog lagi ..

Supaya Tetap Waras di Media Sosial

filosofi yin-yang (cina), the unity of opposite (yunani), atau sejenisnya mengajarkan pada kita bagaimana bersikap dalam kehidupan kita sehari hari. harus dipahami bahwa dua kubu yang berlawanan sebenarnya saling melengkapi, saling terhubung, dan tidak terpisahkan.

capek dan bosan kalo kita baca riuhnya medsos saat ini, kebanyakan adalah dua kubu yang polarisasi opininya berbeda saling gontok gontokan. ga sebelah sana dan sebelah sini sama aja kelakuannya, akibatnya orang awam yang setuju pada salah satu opini jadi kebawa juga ikutan bully bully kelompok seberang. social media is contagious.

saya sering kasih nasihat ke mahasiswa, hidup itu janganlah ekstrim kanan atau kiri, coba hidup ditengah, pahami setiap sisi kehidupan, niscaya hidup jadi penuh toleransi dan ketenangan. memang ga semua bisa terima opini saya tersebut. tapi yang penting saya sudah share obat saya supaya tetap waras,

bagaimana dengan anda ?? ..

sumber gambar : http://insights.berggruen.org/issues/issue-6/institute_posts/147

National Data Days 2017

kegiatan tahunan data days diluncurkan pertama kali bulan november tahun lalu oleh fakultas eknomi dan bisnis (FEB), universitas telkom. tahun 2017 ini, data days 2017 diberi nama lengkap sebagai national data days 2017 (NDD17). NDD17 terdiri dari kegiatan seminar, workshop, kompetisi, dan eksibisi. tema NDD17 ini adalah “data for better indonesia”.

seminar akan menghadirkan pembicara seperti pak gadang ramantoko (ekonomi digital), pak setia pramana (data di bidang kesehatan), pak mahmoud syaltout (data bidang politik dan bisnis), dan mas kamal hasan (praktisi data). workshop menghadirkan pemateri pemateri handal dari akademisi seperti pak taufik sutanto, dari industri data seperti midtrans, i-811, mediawave, presentasi beberapa hasil riset mhs FEB dan mahasiswa sekolah tinggi ilmu statistika.

silahkan datang tanggal 21-22 november 2017

Lensa Lebar untuk Iphone / Iphonegraphy

lensa lebar untuk iphone / iphonegraphy
istilah ‘kamera terbaik adalah kamera yang kamu bawa sekarang’ adalah benar adanya. sehari hari kita tidak melewatkan kesempatan motret karena kita punya smartphone seperti iphone. iphonegraphy atau photography menggunakan iphone sangat populer. menurut saya kamera iphone sangat bagus, terutama iphone generasi terakhir di indonesia seperti iphone 7+. selain iphone kamera yang pernah saya coba dan sangat bagus adalah dari nokia lumia seri 920 atau 1020. kemampuan iphone sendiri ada batasnya, kalo untuk saya lensa iphone kurang lebar, sehingga kadang kadang merepotkan. untuk itu saya perlu lensa iphone (konverter) wide lens, super/ultra wide lens, atau fish eye

setelah mencari cari saya akhirnya nemu 3 lensa dengan FoV (field of view) 110degree, 190degree, dan 238degree yang semuanya lebih lebar dari lensa bawaan iphone. contoh perbandingan hasil bisa dilihat di contoh. 
kesimpulan dengan lensa tambahan, iphone jadi semakin fun untuk dipakai, kita ga perlu lagi bawa kamera tambahan (seperti kasus saya adalah gopro). makin banyak variasi view untuk foto landscape, selfie, wefie. kerugiannya adalah kualitas photo menjadi berkurang, apalagi kalau pemasangan lensa yang tidak tepat, maka hasil foto jadi soft dan berkurang kontrasnya.

PS : lensa lensa ini juga bisa dipake untuk smartphone selain iphone


G30S – 2017

Menjelang peringatan peristiwa G30S tahun 2017 terjadi banyak kegaduhan di Indonesia, tiba tiba muncul isu anti PKI dan lain lainnya yang tidak pernah muncul tahun tahun sebelumnya. Kelompok kelompok dan politisi oposisi pemerintah saat ini keliatan jelas berusaha menggoreng isu ini untuk “ganggu” konsentrasi penguasa / pemerintah. Sebelumnya muncul isu presiden Jokowi dituduh antek PKI, gara gara kerja sama ekonomi dengan Cina, padahal memang sekarang Cina adalah raksasa ekonomi dunia, dalam konteks ekonomi wajar negara kita kerjasama dengan yang punya banyak modal. 

Film klasik G30S yang wajib kita tonton pada saat orde baru merupakan film penuh kontroversi. Film ini digugat karena tidak sesuai dengan fakta dan mengkultuskan individu. Isu nobar film ini menjelang peringatan tahunan G30S menjadi menu sehari hari, bahkan panglima TNI pun mewajibkan anggotanya untuk nobar film ini, walaupun banyak yang mencibir isi film klasik ini yang tidak sesuai fakta. Maka kemudian rakyat bingung, jadi yang betul yang mana. Bahkan presiden jokowi menyarankan untuk membuat film ini dalam versi kekinian, walaupun tidak spesifik maksudnya versi kekinian itu seperti apa ..

Joshua Oppenheimer sutradara Amerika-Inggris diam diam telah membuat 2 film berkaitan peristiwa 65-66 di Indonesia, yaitu Act of Killing (Jagal) dan Look of Silence (Senyap). Kedua film ini mencerahkan dan mencerdaskan kita dalam memahami peristiwa yang terjadi saat itu. Film ini banyak mendapatkan penghargaan, karena dibawakan dengan metoda saintifik seperti film film dokumenter wahid tingkat dunia. Walaupun begitu film ini malah ditolak sebagai materi nobar oleh beberapa pihak, padahal setelah sekian tahun kita di cuci otak oleh orde baru, saat ini adalah saat yang tepat untuk bangsa kita belajar. Saya tidak akan cerita detail kedua film tersebut, filmnya bisa kita lihat bebas dan gratis di youtube. monggo !!. 

Sabtu pagi tanggal 30 september 2017, saya baca baca berita terkait peringatan G30S dan ternyata cukup pusing karena banyaknya berita dan ragam isu yang diusung. Akhirnya saya nyalakan mesin crawling twitter jam 8 pagi, kemudian saya tinggal weekendan, selanjutnya mesin crawling saya matikan jam 3 sore. Hasilnya saya bisa lihat topik dominan apa saja yang dibahas mengenai G30S dan aktor aktor siapa aja yang dominan pada topik tersebut.

Topik terdiri dari isu isu nobar film G30S beserta saran untuk menonton film joshua sebagai film pelengkap / pendamping film klasik tersebut. Saran untuk kita lebih pintar memahami peristiwa sejarah sehingga tidak mudah diperalat untuk kepentingan politik. Ada juga topik mengenai cerita sejarah dari saksi langsung maupun tidak langsung peristiwa tersebut. Juga topik beberapa politikus yang ikut nyemplung ambil muka dari peringatan peristiwa ini.

Akun dominan adalah @majalahhistoria yang banyak menceritakan kejadian sejarah peristiwa tersebut beserta analisanya, akun @tirtoid yang mirip dengan akun diatas, dan beberapa selebtwit seperti budiman soedjatmiko dan indra pilliang

berikut screenshotnya!!


akun akun dominan


kata kata dominan dan hubungan antar kata


wordcloud

Seminar Big Data Bank Indonesia Agustus 2017

#latepost blog entry. Awal Agustus 2017 dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Indonesia, Bank Indonesia mengadakan seminar nasional Big Data dengan tema “Globalisasi Digital: Optimalisasi Pemanfaatan Big Data untuk Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi”. Saya beruntung diundang untuk menghadiri acara ini, karena selain pembicaranya adalah orang orang penting perekonomian baik dari internal Bank Indonesia, pemerintahan maupun dari pelaku pasar digital, tapi juga karena seminar ini menunjukkan keseriusan bank sentral dalam mengadopsi big data. Adopsi big data berarti adopsi metode dan teknologi pendukungnya. Bukanlah hal yang mudah untuk industri perbankan mengadopsi cara baru seperti big data.

Diantara penbicara adalah keynote speech dari Gubernur BI.  Pembicara panel pertama, Gubernur DKI Pak Djarot, Walikota Makasar Pak Ramdhan, dan Prof Soehono guru besar ITB. Pada sesi kedua pembicara panel adalah Direktur Statistik Bank Indonesia, Direktur Digital Strategic Pt Telkom, Direktur Transformasi TIK direktorat Pajak. Dilanjutkan keynote speech dari Menteri perencanaan Pembangunan Nasional / Kepala Bappenas. Sesi ketiga diisi oleh Direktur Digital Banking Bank Mandiri, CEO Modalku, dan CEO Midtrans (VeriTrans). Sesi keempat diisi oleh CEO Tokopedia, Perwakilan Google Indonesia, dan CEO Gojek. 

Acara ini sangat menarik terutama pada segmen financial technology dan digital industry pada sesi ke 3 dan ke 4, dimana para pembicara dengan detail menceritakan suka duka industri digital indonesia serta tips dan trick untuk survive. Sedangkan pada sessi pertama tentang smart city, karena yang berbicara adalah para pemimpin pemerintahan (gubernur dan walikota), maka materi yang dibawakan agak kurang greget (terlalu global). 

IMG 8457IMG 8471IMG 8495IMG 8474IMG 8484IMG 8486IMG 8489

IMG 8498

Model Chaos dan Complex untuk Pengukuran Ekonomi Indonesia

Kami dari lab. Social Computing dan Big Data pada acara sharing knowledge minggu ke 2 mengundang Ibu Tisa (Siti Saadah) dari Fakultas Ilmu Informatika untuk memaparkan penelitian beliau dengan tema besar mengukur kondisi perekonomian makro Indonesia. Pendekatan yang dilakukan bu Tisa sangat unik, karena tidak menggunakan teori ekonomi makro konvensional, akan tetapi menggunakan pendekatan permodelan artificial intelligence (AI).

Model yang diusulkan berdasarkan perilaku chaos dan complex variabel variabel indikator ekonomi makro. Chaos dimodelkan dengan persamaan differensial dinamis. Proses pembelajaran model menggunakan metode Genetic Algorithm dengan menggunakan proporsi perkawinan silang dan mutasi variabel yang berbeda beda secara berulang ulang.

Usulan penggunaan metode ilmu komputer untuk menyelesaikan permasalahan ekonomi, tentu tidak dengan mudah diterima oleh para ahli ekonomi. Perlu waktu untuk menyakinkan pendekatan seperti ini. Saya yakin cara seperti ini akan menjadi standard di masa depan. Industri fintech (financial technology) adalah salah satu contoh industri yang bisa mendorong pendekatan pendekatan seperti diatas untuk diadopsi sistem ekonomi.

potongan video dari facebook live 

Human Development Index vs Total Revenue Kota/Kab di Indonesia

Kota/Kab. mana yang sudah maju ?

HDI (Human Development Index) adalah indeks tingkat kesejahteraan masyarakat dilihat dari tingkat kesehatan, pengetahuan, ketrampilan yang pada akhirnya dijadikan ukuran untuk perkembangan ekonomi suatu Kota/Kab. Total Revenue (Rev) adalah total pendapatan suatu Kota/Kab dalam kurun waktu tertentu. Suatu Kota/Kab dengan HDI yang besar seharusnya mempunyai Rev yang besar, atau sebaliknya Rev yang besar meningkatkan nilai HDI Kota/Kab. Pertanyaannya adalah bagaimana melihat Kota/Kab yang sudah mempunyai performansi seperti asumsi diatas. Data diambil dari gerakan Open Data INDO DAPOER (Indonesia Database for Policy and Economic Research) yang dikeluarkan oleh World Bank. Untuk snapshot ini, saya hanya mengambil data tahun 2013 saja.

Dari 469 Kota/Kab di Indonesia mayoritas berada pada daerah HDI tinggi tapi Rev kecil (klaster warna merah). Pengecualian pada klaster warna hijau, yaitu 4 Kota/Kab dengan performansi bagus, yaitu Kab. Kutai Kartanegara, Kota Surabaya, Kab. Bogor dan Kota Bandung. Kluster warna biru terdapat Kota/Kab yang nilai HDI kecil dan Rev kecil seperti Kab. Asmat, Kab. Lombok Barat, Kab. Lebak, Kab. Sampang dll. Pada kluster warna biru pemerintah harus bekerja keras untuk meningkatkan nilai HDI pada daerah daerah tersebut dengan harapan akan mendorong Rev. Kuster warna oranye adalah Kota/Kab yang sepertinya akan menuju kearah peningkatan Rev, contohnya yaitu Kab. Bekasi, Kota Medan, Kab. Tangerang, Kab. Karawang dll.

Secara keseluruhan nilai HDI ada pada kondisi baik, akan tetap proses yang berlangsung belum membawa kepeningkatan Rev yang seimbang, sepertinya perlu pemberdayaan ekonomi rakyat seperti usaha usaha kewirausahaan. Terlihat juga ketimpangan kesejahteraan masyarakat antara pulau jawa dan luar pulau jawa.

Untitled4 2